Tampilkan postingan dengan label News Education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News Education. Tampilkan semua postingan

Rahasia mencari ilmu (Panduan Belajar Bagi Penuntut Ilmu)


Dalam mencari ilmu mempunyai beberahasia agar tidak hanya mendapatkan ilmu saja, tetapi jauh dari manfaat ilmu.

Di sekolah-sekolah umum rahasia tentang manfaat ilmu masih kurang ditekankan, sedangkan di pondok-pondok pesantren tentang hal ini dipeljari khusus dalam kitab Ta'alim muta'alimun. Dikalangan pesantren tradisional kitab ini sudah sangat populer, kitab ini berisi tentang penekanan bagaimana etika santri mencari ilmu, menghormati ilmu, menghormati ahli ilmu, guru dan kyai.

Oleh sebab itulah di lingkungan pesantren akan terlihat jelas bagaimana suasana sikap santri terhadap gurunya. Ta’zhimul ilmi wa ahlihi ( menghormati ilmu dan ahli ilmu ) jelas merupakan keharusan bagi setiap penuntut ilmu agar ia mendapatkan ilmu yang berkah dan manfaat. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dapat membawa ahlinya pada kebaikan dan semakin dekat kepada ALLAH walaupun ilmu yang ia dapatkan hanya sedikit. Hal ini perlu diketahui oleh siswa yang notabene juga si pencari ilmu.

Menghormati ilmu dan ahli ilmu sangat penting, bagaimana kita akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat minimal untuk diri sendiri kalau ketika menuntut ilmu saja sudah berani melawan guru, tidak memakai etika ketika berbicara dengan guru, apalagi sampai melakukan tindakan-tindakan anarkis dengan merusak fasilitas belajar, berdemo memaki-maki guru, na’udzu billah.

SMAPa DALAM HARDIKNAS 2010

SMA Negeri 1 Pagak (SMAPa) merupakan salah satu SMA negeri tertua di Kabupaten Malang, di samping SMA Negeri 1 Kepanjen, SMA Negeri 1 Lawang, dan SMA Negeri 1 Tumpang. Umurnya kini genap 26tahun. Dengan usia tersebut, sekolah yang berada di daerah Malang Selatan ini terus menggeliat menggapai kemajuan di bidang akhlaq, ilmu pengetahuan dan teknologi. Di bawah kepemimpinan Bapak Drs. Supa'at, M.Hum., M.Si. sebagai Kepala Sekolah, SMAPa selalu aktif ambil bagian dalam setiap even, baik di lingkungan internal sekolah maupun di lingkungan eksternal.

Foto yang tertera di atas merupakan satu wujud keberhasilan siswa dalam lomba blog se-Malang Raya yang diselenggarakan oleh OSIS SMA Negeri 1 Kepanjen bulan Januari 2010 lalu. Dalam lomba yang memperebutkan piala Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang ini, Deby (pakai sweater hitam) dari Kelas XII.IPA1 memperoleh juara I. Menjelang Ujian Nasional, Debi dan karibnya Didin (membawa piala) menjadi kreator terbentuknya blog siswa dan guru SMAPa yang diberi nama "FBS (Forum Blogger SMAPa)". Menurut DiDe (sebutan sang kreator, singkatan dari Didin dan Debi), nama FBS itu diambil dari keprihatinan mereka pada kegandrungan berlebihan sebagian siswa terhadap situs jejaring sosial, Facebook. Selain itu, SMAPa selalu diperhitungkan keberadaanya dalam cabang-cabang olahraga sepak bola, futsal, dan bola basket putri. Di bidang seni ada Teater Kelas yang memang berkelas. Seniman-seniman lukis juga bermunculan. Danu Mukti dari Kelas XII.IPA2 bersama guru Seni Budaya, Drs. Andrianto juga telah ikut berpameran di MOG Kota Malang.(bersambung)

Guru di Magetan Temukan Belimbing Wuluh untuk Hidupkan Lampu

NGAWI, KOMPAS.com — Sunarto, guru sekolah menengah atas di Magetan, Jawa Timur, mampu membuat inovasi dari jus belimbing wuluh yang menghasilkan energi listrik dan mampu menghidupkan bola lampu selama satu bulan tanpa dimatikan.

Guru lulusan ITS Surabaya ini sejak lama mengamati potensi listrik yang tersimpan dalam belimbing wuluh. Melalui serangkaian percobaan, sampailah pada bentuknya seperti sekarang. Tidak sulit. Cukup siapkan satu gelas tanah, jus belimbing wuluh, serta lempeng tembaga dan seng sebagai elektroda.

Karena sederhana, Sunarto yakin semua orang bisa membuatnya. Tenaga listrik yang dihasilkan bisa dilipatgandakan dengan menambah ukuran. Mimpi Sunarto kini adalah mengembangkan cara penyimpanan yang lebih ringkas sehingga pembangkit tenaga belimbing wuluh ini mudah dibawa ke mana-mana.(*)

orginal by kompas

BEASISWA BIDIK MISI 2010 ; orsi Calon Mahasiswa PMDK Ditambah

24/03/2010 08:15:09 SOLO (KR) - Untuk menyukseskan program penyaluran beasiswa bidik misi 2010, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo akhirnya mengambil kebijakan cepat melakukan penambahan porsi jumlah calon mahasiswa Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Karena dari kuota 400 beasiswa bidik misi yang diterima, sementara baru mendapat 59 calon penerima yang memenuhi persyaratan. Padahal proses kelengkapan administrasi harus rampung sebelum bulan Mei.

Guna memenuhi kuota, UNS kembali mengundang sekolah untuk mengirimkan nama siswa berprestasi dari kalangan tidak mampu. Sebenarnya awal Maret lalu sudah diumumkan sekitar 1.200 siswa yang dinyatakan diterima UNS melalui jalur bebas tes alias PMDK yang disaring dari sekitar 12 ribu pendaftar. Berikutnya UNS kembali akan mengundang 400 orang. “Dengan adanya program bidik misi tambahan ini berarti ada peningkatan PMDK dari 1.200 menjadi 1.600 orang,” jelas Prof Dr Ravik Karsidi MS, Pembantu Rektor I UNS yang didampingi Drs Nurhadi, Divisi PMDK di ruang kerjanya, Senin.

Membengkaknya jumlah mahasiswa bebas tes praktis mengurangi porsi calon mahasiswa yang diterima melalui ujian tulis SNMPTN. Untuk tahun ini UNS akan menerima sekitar 5.200 mahasiswa dari program S-1 hingga S-3. Untuk program bidik misi hanya diperuntukkan program S-1 dan Diploma secara keseluruhan ada 70 program studi yang tersebar di sembilan fakultas. Untuk Fakultas Kedokteran mendapat jatah 28 mahasiswa, Fakultas Teknik 26, MIPA 44, Fakultas Pertanian 43, Fakultas Ekonomi 28, Fakultas Hukum 28, Fisip 26, Sastra 58 dan FKIP 103.

Prof Ravik menjelaskan untuk tahap pertama dari 487 pendaftar PMDK baru 59 orang yang dinyatakan diterima sebagai calon mahasiswa UNS sekaligus sebagai calon penerima beasiswa bidik misi yang setiap semester mendapatkan Rp 5 juta. 

Dari kuota yang ada, jumlah itu ternyata masih. Sehingga UNS harus mencari tambahan 341 untuk diajukan sebagai penerima beasiswa ke Ditjen Dikti. Untuk memenuhi jumlah itu panitia SPMB kembali memberikan kesempatan kepada peserta seleksi PMDK baik yang sudah dinyatakan diterima maupun yang belum lolos.

Pendaftaran PMDK beasiswa bidik misi dibuka 29 Maret sampai dengan 23 April 2010. Persyaratannya peserta telah terdaftar sebagai peserta seleksi penerimaan mahasiswa baru jalur PMDK UNS 2010. Setiap peserta hanya dapat memilih satu program studi. Peserta diusulkan secara kolektif setelah diseleksi berdasarkan persyaratan termasuk peringkat minimal 25 persen terbaik di kelas, berasal dari keluarga tidak mampu.                  (Qom)-g

orginal by http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=212076&actmenu=44

Kisah Anak Tukang Ojek Masuk UI Tanpa Tes (3)

JAKARTA, KOMPAS.com — Saat ada Program Penelusuran Minat dan Kemampuan atau PMDK di Universitas Indonesia, Aisyah Nur Kumalasari (17) langsung mengikutinya.

Siswi kelas XII IPA 1 SMAN 40 Pademangan, Jakarta Utara, itu tidak sendirian. Ada 177 siswa kelas XII dari SMAN 40 Pademangan yang mengikuti program tersebut. Itu artinya, Aisyah harus bersaing dengan 176 orang temannya satu SMA.

Hasil seleksi menunjukkan, dari jumlah tersebut hanya empat siswa yang mendapat kesempatan mengikuti program PMDK dari UI. Dari kelas IPA ada Aisyah Nur Kumalasari dan Filda. Adapun dari kelas IPS ada Citra dan Anggun.

“Namun, dari tahap seleksi yang berhasil lolos masuk adalah Aisyah. Dia memang selalu juara kelas,” kata Endang Sri Astuti, Wakil Kepala SMAN 40 Pademangan.

Namun sayangnya, registrasi PMDK ini tidak masuk dalam program beasiswa 1000 Anak Bangsa karena dalam pengisian formulir Aisyah mencantumkan pendapatan orangtuanya dalam sebulan Rp 1 juta. Padahal, seharusnya pengisian tersebut kurang dari Rp 1 juta. Akibatnya, dia dikenakan biaya Rp 12 juta per semester. Tentunya dengan biaya tersebut, Bogi Saptono dan Paryanti—orangtua Aisyah—tidak akan mampu.

“Karena ini yang pertama kali untuk SMAN 40 Pademangan. Kalau Aisyah dapat program tersebut, dia hanya dikenakan biaya per semester Rp 100.000,” kata Endang didampingi Kepala SMAN 40 Pademangan Matalih.

Selanjutnya, pihak sekolah mengupayakan agar Aisyah masuk dalam program beasiswa bantuan operasional pendidikan berkeadilan yang diselenggarakan oleh UI. Akhirnya, Aisyah pun hanya dikenai biaya per semester Rp 900.000.

“Aisyah nanti tidak usah memikirkan uang semester kewajibannya itu karena pihak sekolah sudah menyediakan dana itu untuk biaya masuk. Aisyah harus bisa mempertahankan prestasinya agar beasiswanya berlanjut,” ungkap Endang.

Matalih sangat bangga dengan anak didiknya tersebut. Dia berharap keterbatasan ekonomi tidak harus menyurutkan apa yang ingin digapai. “Di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan,” katanya berfilosofi.

Matalih berharap akan tumbuh tunas-tunas bangsa yang akan menjadi pelopor pembangunan di Indonesia ini. Bahkan, dia berjanji sekuat tenaga untuk mencarikan jalan keluar bagi siswa-siswa, terutama dari SMAN 40 ini, yang berbakat dalam menggapai pendidikan di perguruan tinggi. Semuanya itu demi terwujudnya tunas bangsa yang bermanfaat bagi negeri ini. (Habis)

Di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan.

Belajarlah dari Aisyah

JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah mengikuti Ujian Akhir Sekolah (UAS) hari ini, Selasa (6/4/2010), Aisyah Nur Kumalasari (17) mengantar Kompas.com ke rumahnya di Pademangan Timur VIII, Jakarta Utara.

Saya melakukannya atas dasar suka. Saya suka membaca, jadi belajar bukanlah beban.
-- Aisyah Nur Kumalasari
Gadis cerdas berparas ayu serta santun itu menuturkan kegembiraannya diterima di Universitas Indonesia (UI) melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK).

"Saya merasa lega, sudah diterima di UI, jurusannya juga saya sukai. Tapi saya juga harus memikirkan sekolah saya, masih ada ujian sekolah dan pengumuman UAN yang belum keluar, jadi saya tetap harus belajar," katanya, setiba di rumahnya.

Bagi Aisyah, yang sehari-hari berangkat sekolah dengan berjalan kaki atau diantar ayahnya yang tukang ojek, belajar bukanlah suatu beban. "Memang saya hobi membaca, jadi saya melakukannya atas dasar suka. Saya suka membaca, jadi belajar bukanlah beban," tuturnya.

Meskipun berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah, Aisyah tetap percaya diri dan menerima keadaan ayahnya yang hanya berprofesi sebagai tukang ojek. Bagi Aisyah, usaha ayahnya menghidupi keluarga memotivasi dia untuk terus belajar.

"Saya dan bapak saling memberi motivasi dari keseharian masing-masing. Saya juga punya dukungan moral untuk terus berusaha. Bapak dan ibu memberi contoh dengan kerja keras," ujar siswi SMA Negeri 40 Pademangan ini.

Menjadi dosen
Aisyah Nur Kumalasari adalah siswi SMA Negeri 40 Pademangan pertama yang masuk UI melalui jalur PMDK. Untuk memperjuangkan pendidikan yang lebih tinggi untuk Aisyah, pihak sekolah mengusahakan agar Aisyah mendapat keringanan biaya masuk UI dan biaya SPP tiap semester. Hasilnya, pihak sekolah pun membayarkan biaya masuk UI sebesar Rp 800 ribu melalui dana sumbangan guru dan alumni.

Untuk itulah, meskipun sebelumnya sempat mengurungkan niat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, kisah Aisyah, dirinya tetap berpikir positif untuk mendaftar program PMDK UI atas dorongan pihak sekolah. Dan tak lupa, kata Aisyah, dia pun menyampaikan terima kasih kepada kedua orangtuanya.

"Bapak, Mama, meskipun saya nanti akan melanjutkan pendidikan dan menjadi orang sukses, Insya Allah saya nggak akan melupakan bapak dan Mama," katanya.

Pun, kata Aisyah, keberhasilannya mendapat tiket masuk Fakultas Ilmu Kesehatan UI tanpa tes itu bukan berarti membuatnya merasa di atas angin. "Karena ini baru awal, masih panjang perjalanan saya. Saya akan selalu belajar," imbuhnya.

Tiket masuk UI memang tidak akan disia-siakan Aisyah. Kunci masuk gerbang perguruan tinggi ini akan digunakan untuk mencapai cita-citanya menjadi seorang guru atau dosen.

"Seperti halnya guru BK (Bimbinga Konseling) saya yang sangat berperan memotivasi saya, memberi informasi beasiswa dan kuliah," tuturnya.